Mengutip berita di Republika Online, lengkapnya bisa dibaca dibawah ini, bahwa memang sifat dasar manusia itu adalah egosentris, eksistensinya pingin diakui. Bahkan ketika berhadapan dengan kemutlakan Tuhan pun, manusia tak mau kalah. Itu terlihat dalam kalimat si ilmuwan :
“Menjulukinya sebagai ‘partikel Tuhan’ sangat tidak tepat. Itu tidak adil pada penemu partikelnya dan peranan pentingnya di jagad raya. Ini tak ada hubungannya dengan Tuhan,”
Apakah itu adalah ekspresi penghormatan terhadap hasil karya dari keilmuannya atau memang sudah menjadi ideologi sang ilmuwan, mereka sendiri yang lebih tahu, saya tidak mau men-judge-nya.
Memang studi Penciptaan Alam Semesta menjadi semacam ajang pertandingan bagi para ilmuwan theisme dan ilmuwan atheisme. Pihak pertama ingin mencari pembuktian ilmiah tentang peristiwa penciptaan alam semesta dimana sekarang ini hipotesa Big Bang menjadi titik nol dimulainya proses penciptaan itu. Continue reading




